Menag: Kader PKUMI Harus Unggul Secara Akademik dan Spiritual
Menag: Kader PKUMI Harus Unggul Secara Akademik dan Spiritual
Jakarta, [tanggal kegiatan] — Program Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKU-MI) menggelar kegiatan Orientasi dan Tadabbur Alam sebagai langkah strategis dalam membentuk kader ulama yang unggul secara akademik sekaligus kokoh secara spiritual. Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi konkret gagasan ekoteologi yang diinisiasi oleh Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar.
Bertempat di lingkungan Masjid Istiqlal dan kawasan alam sekitarnya, kegiatan ini dirancang untuk mengintegrasikan dimensi intelektual dan spiritual dalam proses kaderisasi ulama. Dalam berbagai arahannya, Menag menegaskan bahwa kader PKU-MI tidak cukup hanya kuat dalam penguasaan ilmu keislaman, tetapi juga harus memiliki kedalaman spiritual dan kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan, termasuk krisis lingkungan.
“Ekoteologi mengajarkan bahwa menjaga alam adalah bagian dari iman. Karena itu, kader ulama harus unggul secara akademik dan spiritual, serta mampu membaca tanda-tanda kebesaran Tuhan di alam semesta,” ujar Menag dalam pernyataannya.
Ekoteologi sendiri merupakan pendekatan yang menghubungkan ajaran agama dengan kesadaran ekologis, menempatkan manusia sebagai khalifah yang memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk merawat bumi. Dalam konteks ini, Kementerian Agama Republik Indonesia mendorong lahirnya narasi keagamaan yang tidak hanya berorientasi pada ritual, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan.
Direktur PKU-MI menjelaskan bahwa kegiatan orientasi dan tadabbur alam ini dirancang sebagai metode pembelajaran integratif. Peserta tidak hanya mendapatkan penguatan materi keislaman, tetapi juga diajak melakukan refleksi langsung terhadap ayat-ayat kauniyah melalui interaksi dengan alam. “Kami ingin melahirkan ulama yang responsif terhadap tantangan zaman, termasuk isu lingkungan yang semakin mendesak,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan diisi dengan kajian tematik, diskusi interaktif, serta sesi refleksi yang mengaitkan teks-teks keagamaan dengan realitas ekologis. Para peserta diajak memahami bahwa kerusakan lingkungan bukan semata persoalan teknis, melainkan juga cerminan krisis etika dan spiritualitas manusia.
Lebih dari itu, tadabbur alam menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga keseimbangan ekosistem merupakan bagian dari ibadah. Kesadaran ini diharapkan dapat membentuk karakter ulama yang tidak hanya menjadi rujukan dalam aspek keagamaan, tetapi juga menjadi agen perubahan dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
Melalui kegiatan ini, PKU-MI menegaskan komitmennya dalam mencetak kader ulama yang moderat, berwawasan luas, dan memiliki sensitivitas terhadap isu-isu global. Hal ini sejalan dengan visi Kementerian Agama dalam membangun harmoni antara nilai-nilai keagamaan dan kelestarian alam, sebagai fondasi bagi peradaban yang berkelanjutan.











