Tak Cukup Dalami Ilmu Agama, PKUMI Bekali 54 Mahasiswa Indonesia di Mesir dengan Kecakapan Global
null
KAIRO, MESIR — Menjadi ulama di era global menuntut lebih dari sekadar penguasaan ilmu keislaman. Kemampuan memahami budaya, membangun relasi lintas masyarakat, hingga mengelola keuangan secara mandiri menjadi bekal penting bagi calon ulama yang menempuh pendidikan di luar negeri. Berangkat dari kebutuhan tersebut, Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI) memperkuat kapasitas 54 mahasiswa Indonesia di Kairo, Mesir, melalui pengembangan adaptasi sosial dan literasi keuangan internasional.
Program ini menghadirkan perspektif keislaman, sosial-budaya, dan ekonomi dalam satu pendekatan pengembangan mahasiswa. Tujuannya, mempersiapkan generasi calon ulama yang tidak hanya mendalam dalam keilmuan agama, tetapi juga tangguh menghadapi dinamika kehidupan, mampu beradaptasi dengan lingkungan baru, dan mandiri dalam mengelola kebutuhan finansial.
Direktur PKUMI, Ahmad Thib Raya, menegaskan bahwa pendidikan kader ulama perlu menjawab tantangan zaman. Menurutnya, ulama masa depan harus memiliki keluasan wawasan untuk memahami persoalan masyarakat secara utuh, termasuk dinamika sosial dan persoalan ekonomi yang dihadapi umat.
“Kader ulama masa depan tidak cukup hanya memahami teks keagamaan. Mereka harus mampu membaca realitas sosial, memahami budaya masyarakat, dan memiliki kecakapan mengelola kehidupan ekonomi secara bertanggung jawab. Inilah bagian penting dari pendidikan ulama yang berwawasan internasional,” ujar Ahmad Thib Raya.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya pendekatan pendidikan ulama yang menghubungkan kedalaman ilmu agama dengan kecakapan menghadapi kehidupan nyata. Terlebih bagi mahasiswa yang belajar di negara lain, kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan memahami sistem kehidupan setempat menjadi bagian penting dari keberhasilan pendidikan mereka.
Literasi keuangan, bekal penting mahasiswa di luar negeri
Selain adaptasi sosial, kemampuan mengelola keuangan menjadi perhatian utama dalam program ini. Mahasiswa yang menjalani pendidikan di luar negeri menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan nilai tukar mata uang, perbedaan sistem pembayaran, biaya hidup, hingga penggunaan layanan perbankan internasional.
Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (FEB UNUSIA), Dr. Muhammad Aras Prabowo, S.E., M.Ak., menekankan bahwa pemahaman terhadap aspek-aspek tersebut diperlukan agar mahasiswa mampu mengambil keputusan finansial secara cermat dan bertanggung jawab.
“Mahasiswa Indonesia di Mesir harus memiliki literasi keuangan internasional yang kuat. Mereka perlu memahami nilai tukar, transaksi perbankan, perencanaan anggaran, dan risiko pembayaran lintas negara. Tata kelola keuangan yang baik merupakan bentuk akuntabilitas pribadi sekaligus fondasi kemandirian ekonomi,” jelas Aras.
Literasi keuangan dalam konteks ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengatur pengeluaran, tetapi juga menyangkut kecakapan merencanakan kebutuhan, memahami risiko transaksi, dan menjaga stabilitas keuangan selama menempuh pendidikan. Kemampuan tersebut diharapkan membantu mahasiswa menjalani kehidupan akademik dengan lebih terencana dan mandiri.
Memahami budaya, membangun jembatan antarbangsa
Tantangan mahasiswa Indonesia di Mesir tidak berhenti pada persoalan akademik dan keuangan. Perbedaan kebiasaan, etika komunikasi, serta pola interaksi sosial juga memerlukan pemahaman agar proses adaptasi berlangsung dengan baik.
Muhammad Amin Bukhari, mahasiswa doktoral bidang Tafsir Universitas Al-Azhar Kairo, menjelaskan bahwa mengenal masyarakat Mesir membutuhkan pemahaman yang melampaui kemampuan berbahasa Arab. Mahasiswa juga perlu mempelajari tradisi, kebiasaan sehari-hari, etika pergaulan, dan cara masyarakat setempat membangun hubungan sosial.
“Memahami masyarakat Mesir membutuhkan lebih dari kemampuan berbahasa Arab. Mahasiswa perlu mengenali tradisi, etika komunikasi, kebiasaan sosial, dan cara masyarakat membangun hubungan. Adaptasi yang baik akan memperkuat proses akademik sekaligus menjaga citra positif Indonesia,” ungkap Amin.
Kemampuan memahami budaya setempat menjadi modal bagi mahasiswa untuk membangun komunikasi yang efektif, memperluas jejaring, serta menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat di negara tempat mereka belajar. Pada saat yang sama, perilaku dan interaksi mahasiswa turut membawa identitas Indonesia di tengah pergaulan internasional.
Menyiapkan ulama yang berilmu sekaligus adaptif
Kolaborasi PKUMI dan FEB UNUSIA melalui program ini memperlihatkan pentingnya pengembangan kapasitas mahasiswa secara menyeluruh. Pendidikan keislaman, pemahaman sosial-budaya, dan kecakapan ekonomi diposisikan sebagai kompetensi yang saling melengkapi dalam mempersiapkan calon ulama menghadapi tantangan masa depan.
Penguatan tersebut diharapkan tidak hanya membantu mahasiswa menjalani kehidupan selama studi di Mesir, tetapi juga menjadi bekal ketika kelak kembali berkontribusi di tengah masyarakat. Dengan wawasan lintas budaya, kemandirian finansial, dan kemampuan membaca realitas sosial, kader ulama diharapkan mampu menjawab kebutuhan umat dalam konteks yang semakin kompleks.
Bagi PKUMI, pengembangan ulama berwawasan internasional bukan semata-mata tentang memperluas pengalaman belajar ke luar negeri, melainkan juga membentuk pribadi yang mampu menjembatani nilai-nilai keislaman dengan dinamika kehidupan modern. Melalui kolaborasi ini, ikhtiar melahirkan ulama yang berilmu, mandiri, adaptif, dan berdaya saing global diharapkan semakin nyata.

